Tampilkan postingan dengan label (anak cucu) Adam dan Hawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label (anak cucu) Adam dan Hawa. Tampilkan semua postingan

8 Feb 2016

Say No to Leave a Dua

Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :
Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.

Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa’) tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…

Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur’an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku…
Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.
Putriku bercerita :

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, “Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??”

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do’aku, “Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa ‘Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., “Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?”. Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, “Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!”. Maka aku berkata kepadanya, “Aku ini putrimu Asmaa'”. Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : “Subhaanallahu…”. Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…”. Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa’ akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do’a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo’ kecuali do’a…barang siapa yang menjaga syari’at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai ‘ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…

Maka ketuklah pintu langit dengan do’a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin (SELESAI…)


(Copas From Medchatsos)


5 Feb 2016

Like Parents Like Children

Bismillahirrohmanirrohim...

Dengan melihat, mendengar, dan terlibat di dalamnya.
Aku sepakat dengan kalimat yang mengatakan "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" atau bahasa kerennya "like father like son/ daughter" kalo bahasa keren dariku "like parents like children".

Sifat seorang anak tidak akan jauh-jauh dari sifat orangtuanya. Ya, ini lah yang aku dapatkan di dalam pikiranku malam ini. Sikap/tabiat/akhlak seorang anak bisa dikatakan 95% dipengaruhi oleh "didikan" orangtuanya di dalam keluarga.
Anak yang ber-IQ tinggi mungkin tidak akan ada "apa-apanya" jika orangtuanya tidak mampu menghadapi kecerdasan anaknya, dan begitu juga anak yang ber-IQ rendah akan menjadi "apa-apa" jika orangtuanya mampu mengahadapi kelemahan anaknya.
Hal tersebut sudah banyak terjadi, seperti info-info yang telah banyak dikabarkan dari stasiun pemberitaan.

Banyak anak-anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata namun karena faktor X yang harus ia hadapi di lingkungan keluarganya anak tersebut harus menerima hukuman dari secuail "kebodohan" yang ia anggap kebenaran.
Seperti sebuah kisah yang pernah saya dengar, seorang anak yang cerdas harus hidup di dalam kurungan jeruji besi, karena membunuh orang yang telah menyakiti ayahnya. Kecerdasannya terlihat, ketika ia dapat berkali-kali kabur dari penjara dengan alasan hanya untuk menjenguk ibunya di rumah. Tentu saja dia kabur dengan kecerdasan dan ilmu pengetahuannya. Meskipun setelah kabur, dia akan kembali ke rumah yang memiliki kamar berpintu jeruji besi itu.(Penasaran dengan artikelnya? o_O cari sendiri ya n_n).

Begitu pula dengan orangtua yang memiliki persiapan matang dalam menghadapi anaknya yang berkebutuhan khusus. Anak-anak yang luar biasa menampilkan keahliannya dalam bidang A/B/Z meskipun dalam "keterbatasannya/kelemahannya".
Anak-anak tersebut tentu saja tidak secara mandiri mengasah kemampuannya yang mungkin jika dibayangkan oleh orang normal serasa tidak mungkin. Tetapi, hal tersebut menjadi mungkin karena anak-anak tersebut berada di tangan yang "siap". Yup, tangan itu adalah tangan orangtuanya.
"Nothing is impossible, isn't it?"

Ketika seorang ayah atau ibu mampu merubah kelemahan menjadi kekuatan dengan do'a dan usahanya, hal tersebut tidak mungkin menjadi sesuatu yang mustahil. Seseorang yang ber-IQ rendahpun mampu melakukan hal-hal yang amazing (dikalangannya).

----
Aku menjadi berfikir tidak mudah menjadi orangtua, banyak yang harus dipersiapkan. Mempersiapkan mental dan ilmu menjadi seorang ayah atau ibu yang sholeh/sholeha tidaklah cukup. Ada hal yang harus dipersiapkan yaitu ilmu dan mental dalam mendidik anak, karena anak adalah amanah, jadi wajib diurus. Sebagai seorang manusia, tentu saja kita selalu bermimpi dan berharap bahwa setelah berumah tangga semua akan berjalan mulus, bahagia dan baik-baik saja. Namun, siapa yang bisa menjamin?, karena semua adalah rahasia illahi.
Untuk mendidik dan mengurus anak tentu saja tidak menjadi tanggung jawab satu orang saja misalnya ayah atau ibu, melainkan ayah dan ibu. Menurutku ini adalah teamwork, jadi tidak bisa seorang ayah menuntut seorang ibu yang harus mendidik anak-anaknya 100% atau sebaliknya. Jika ingin memperoleh anak yang memiliki akhlak baik tentu saja peran orangtualah yang patut dijalankan. Bukan malah tawakal pada guru-guru mereka disekolah, karena setinggi apapun pendidikan yang dibiayai orangtua pada anaknya tidak menjamin akhlak seorang anak. Akhlak anak dibentuk sejak ia kecil, remaja, dan hingga dewasa, semua itu tidak lepas dari hubungan mereka pada orangtuanya.

Wallahualam.
Itulah hasil pemikiranku malam ini.

(Jika salah, mohon maafkan) karena, aku belum menjadi seorang ibu, apalagi seorang istri.
Intinya adalah bagaimanapun jadinya akhlak seorang anak yang lahir kedunia ini bergantung pada tangan yang menyambutnya.



Nite ^_^
--ditengah keheningan di desa tanjung gading--

8 Agu 2014

WANITA

Wanita
Wanita tidak diciptakan dari tulang kepala karena mereka bukan untuk dijadikan pemikir
Wanita tidk diciptakan dari tulang kaki karena mereka bukan untuk dinjak-injak
Melainkan...
Wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dekat dengan tangan dekat dengan hati
Karena itulah...
Dekat dengan tangan, wanita hendaknya dirangkul, dijaga dan dilindungi
Dekat dengan hati, wanita hendaknya disayang dan dimengerti
Tulang rusuk yang bengkok, wanita hendaknya dengan lembut dinasehati dengan pelan dibimbing untuk menjadi lurus.
Wanita
Bukan untuk disakiti ataupun dimanfaatkan atas anugerah yang allah berikan padanya.
Baik itu kecantikannya kebaikannya dan kepolosannya.
Karna
Wanita hadir menjadi pendamping bagi adam as dalam menentramkan hati yang gundah
Hadir menjadi penyemangat bagi muhammad saw dalam dakwah
Hadir menjadi obat rindu sang buah hati bagi ibrahim as.
Hadir untuk merawat isa as
Berikut salah satu hadist yang berkaitan dengan wanita:
Al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallhu ‘alaihi wa
sallam, beliau bersabda, yang artinya :
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari
Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, dan
berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka
diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk
yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika
engkau meluruskannya, maka engkau
mematahkannya dan jika engkau biarkan, maka
akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berbuatlah
baik kepada wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Wallahualam.

18 Apr 2014

#Entah Siapa

#Entah Siapa, salah satu hastag yang kubaca di media sosial.
Sebuah kalimat sederhana sih, tapi lumayan menyeret pikiranku untuk mengiyakan kalimat itu, apalagi jika dikaitkan dengan satu topik, yaitu jodoh :)

Sore itu, dikamar kosku, aku dan beberapa temanku yang terikat dalam satu lingkaran majelis ilmu, tak sengaja membicarakan topik itu. Obrolan itu mengalir setelah kami menyantap hidangan makan siang, mata yang mengantuk menjadi berenergi kembali...^_^

Bermula dari sebuah pertanyaan yang biasa, pertanyaan yang aku ajukan pada salah seorang teman yang usianya terpaut satu tahun diatasku.
"Apalagi yang ditunggu kak? kenapa belum nikah?"  (KEPO)
Anehnya dia hanya tersenyum. Sambil menunggu jawabannya aku mencoba mengambil makna dari senyumnya.
Tidak hanya jawaban yang ia beri tapi kisah penuh hikmah ia sampaikan juga. Kisah-kisah hidupnya dalam ikhtiar menjemput jodoh.
Hingga ia membacakan taujih dari ust salim afillah :
ini isi taujihnya
Pertama
Satu hal yang seringkali dilupakan oleh banyak wanita adalah bahwa kemuliaan wanita tidak bergantung pada laki-laki yang mendampinginya.
Tahu darimana? Allah meletakkan nama dua wanita mulia dalam Al Quran, Maryam dan Asiyah. Kita tahu, Maryam adalah wanita suci yang tidak memiliki suami, dan Asiyah adalah istri dari manusia yang sangat durhaka, Firaun. Apakah status itu mengurangi kemuliaan mereka? No!
Itulah mengapa, bagi wanita di zaman Rasulullah dulu, yang terpenting bukan mendapat jodoh di dunia atau tidak, melainkan bagaimana memperoleh kemuliaan di sisi Allah.
Kedua
Bicara jodoh adalah bicara tentang hal yang jauh: akhirat, surga, ridha Allah, bukan semata-mata dunia.
Ketiga
Jodoh itu sudah tertulis. Tidak akan tertukar. Yang kemudian menjadi ujian bagi kita adalah bagaimana cara menjemputnya. Beda cara, beda rasa. Dan tentu saja, beda keberkahannya.
Keempat
Dalam hal rezeki, urusan kita adalah bekerja. Soal Allah mau meletakkan rezeki itu dimana, itu terserah Allah. Begitupun jodoh, urusan kita adalah ikhtiar. Soal Allah mau mempertemukan dimana, itu terserah Allah.
Kelima
Cara Allah memberi jodoh tergantung cara kita menjemputnya. Satu hal yang Allah janjikan, bahwa yang baik untuk yang baik. Maka, mengupayakan kebaikan diri adalah hal utama dalam ikhtiar menjemput jodoh.
Keenam
Dalam urusan jodoh, ta’aruf adalah proses seumur hidup. Rumus terpenting: jangan berekspektasi berlebihan dan jangan merasa sudah sangat mengenal sehingga berhak menafsirkan perilaku pasangan.
Ketujuh
Salah satu cara efektif mengenali calon pasangan yang baik adalah melihat interaksinya dengan empat pihak, yakni Allah, ibunya, teman sebayanya, dan anak-anak.
Kedelapan
Seperti apa bentuk ikhtiar wanita?
1. Meminta kepada walinya, sebab merekalah yang punya kewajiban menikahkan.
2. Meminta bantuan perantara, misal guru, teman, dll. Tapi pastikan perantara ini tidak memiliki kepentingan tertentu yang menyebabkannya tidak objektif.
3. Menawarkan diri secara langsung. Hal ini tidak dilarang oleh syariat.Bisa dilakukan dengan menemuinya langsung atau melalui surat dengan tulisan tangan. Konsekuensi satu: Ditolak. Tapi itu lebih baik daripada digantung.
Kesembilan
Bagaimana jika ada pria yang datang pada wanita, menyatakan rasa suka, tapi meminta ditunggu dua atau tiga tahun lagi? Perlukah menunggu?
Sabar itu memang tidak ada batasnya. Tapi ada banyak pilihan sabar. Silakan pilih. Mau sabar menunggu, atau sabar dalam merelakannya. Satu hal yang pasti, tidak ada jaminan dua tiga tahun lagi dia masih hidup. Pun tidak ada jaminan kita bisa menuntut jika dia melanggar janjinya, kecuali dia mau menuliskan janjinya dengan tinta hitam diatas kertas putih bermaterai.
Kesepuluh
Bagaimana jika ada pria yang jauh dari gambaran ideal seorang pangeran tapi shalih datang melamar? Bolehkah ditolak?
Tanyakan pada hatimu: Mana diantara semua faktor itu yang paling mungkin membawamu dan keluargamu ke syurga?

Taujih yang membuat aku terdiam. speechless

Kemudian terlontar dari mulut mungilnya. Kita nggak pernah tahu, mungkin saja jodoh kita itu sekarang masih sekolah.
"Apa kak?! Kuliah maksudnya?"
"Iya, masih sekolah..."
"Tapi kan...." belum habis kalimatku. Sepertinya ia sudah tau akan kekagetanku,
Iapun mulai bercerita...
Murobbi kakak dulu menikah dengan suami yang jauh di bawah usianya.
Beliau menasehati kakak...kita itu gak pernah tahu jodoh kita itu siapa. Mungkin saja lebih muda dari kita. 

"Bener juga ya" ujarku dalam hati.

Usia bukanlah ukuran kedewasaan atau kesholihan seseorang. Jika Allah SWT telah berkehendak, tiada siapa bisa menolak.

Wallahualam

6 Des 2013

Kekasihku

Hari itu, sepanjang jalan aku terusik dengan bisikan-bisikan yang menyelinap dihati, aku merasa ada yang timpang dengan diriku.
Tapi, aku belum tau itu apa.
Hari berikutnya, aku kencoba menghitung langkah, namun belum berhenti langkahku. Hatiku kembali berbisik bahwa ada yang timpang dengan diri ini. Aku merasa, seharusnya ada yang menopang ketimpangan itu, tapi hati bertanya kembali...apa?
Hari ini dibawah tirai rahmatNya aku yang selalu bertanya tentang apa yang seharusnya menopang ketimpangan itu,  telah tau jawabnya....
Aku sadar bahwa setiap yang diciptakanNya tidak ada yang timpang...semua berjalan dengan keselarasan dan keseimbangan...
Dan begitu juga aku, aku yakin allah tidak mungkin membiarkanku timpang dalam hidup ini....hanya saja belum waktunya aku menikmati "keselarasan dan kesimbangan hidup" itu.
...
Kekasih...
Apa kabar?
Dibawah rinai rahmatNya
Aku memanggilmu sebagai tanda bahwa aku merindukan hadirmu.
Kekasih kau adalah janjiNya yang diberikan allah padaku...
Jika memang masih terasa berat atau pun sulit berjalan menuju dermaga yang dituliskan Allah, mari kita dekatkan diri padaNya
Aku disini akan selalu berdo'a untukmu, untuk kita dan untuk penerus estafet perjuangan kita nanti...
Kekasih...
Rupamu masih sulit ku lukiskan dan sikapmu masih sulit ku bayangkan
Namun, aku yakin rupamu kan setampan akhlakmu.
Jika nanti Dia telah menakdirkan kita bersatu, tiada lagi tabir yang menghalangi kita untuk memeluk "keselarasan dan keseimbangan" itu
...
Kekasih...
Dengan Perahu ikhtiar yang beratap sabar dan berhiaskan takwa...
Kita tengah mengayuhnya saat ini demi memperoleh pelajaran di setiap perjalanan sebagai bekal hidup dalam bingkai kasihNya
Semoga Allah mempermudah kita untuk tiba di dermaga pertemuan 

Ku titip do'a dan rindu pada allah untukmu duhai kekasih...


Wallahualam
Hanya sebuah rangkaian kata pengantar tidur

26 Nov 2013

Masih bersama At-Thalaq

Bismillah...

Sudah dua kali aku kesana, berawal dari informasi yang ku terima dari seorang teman, promosinya tentang lingkaran itu tidak hanya membuat hatiku terkesima, tapi juga mengantarkan langkahku untuk menuju lingkaran itu.

Ini bukan bicara soal lingkaran halaqoh, tapi ini adalah lingkaran lain yang merupakan rumah ilmu keduaku setelah halaqoh, ini adalah majelis tafsil Qur'an.
Alhamdulillah, walau mereka sudah melalui beberapa ayat, aku tidak merasa terlalu "jauh" dari mereka, karena mereka dan terutama si Ibu, memberikan sport dan motivasi agar aku dapat terus mengikuti dengan sebaik-baiknya.
Disini lebihnya adalah kita juga dituntut menghafal disamping kita membahas tafsir perayatnya.

Subhanallah...
Semoga Allah SWT menguatkan langkah ini selalu dan istiqomah mempelajari kalimat-kalimat cintaNYA.

Semoga menambah ilmu dan semakin dekat denganNya...

Pertemuan kedua masih dengan At-Talaq...surat cintaNya yang berisikan 12 Ayat. Lumayan berat mengingatnya (bagiku) ^_^
Tapi, alhamdulillah disini kami diajarkan bagaimana metode mudah menghapal...
Semoga kandungan surat ini dapat aku pahami dan dikonsumsi dalam kehidupan...aamiin...

Berkah...Berkah...Berkah...
Itulah yang sangat ku harapkan dariNya...




Belajar Takwa Dari At-Talaq 
Sungguh tinggi makna dari sebuah kalimah "Menjauhi LaranganNya dan Menjalankan Segala PerintahNya"Tidak mudah...Namun Bisa!!!
Semangat Menjadi Muslimah Bertakwa, Tetangga Yang Bertakwa, Pelajar yang Bertakwa, Istri yang Bertakwa dan Ibu yang Bertakwa.
Karna...
...Barang Siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya (ayat 2 At-Talaq) dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu (ayat 3 At-Talaq). ...Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya (ayat 4 At-Talaq). ..barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya (ayat 5 at-Talaq).

Allah Maha Rahman dan Maha Rahim...


Wallahu'alam

Menanti atau Mencari?

Bismillah...

Seringkah mendengar sebuah kalimat "menanti jodoh"?

Mungkin nggak sering, tapi tentunya pernah kan?

Kalo aku lumayan sering mendengar, apalagi kalo sudah ngumpul sama temen-temen yang masih "berpayung sendiri". Obrolan sedikit banyak menyinggung prihal jodoh. (Bukan ngobrolin siapanya, tapi lebih pada persiapan si diri dalam masa sendiri menuju hidup yang tak sendiri). Rada berbelit-balit kata-katanya ya? ^_^
Ya, intinya persiapan diri menuju RTI (Rumah Tangga Islami). 
Kalo ngomongnya sudah kearah sana, mereka (teman-temanku) selalu mengatakan "ya...kita sedang menanti jodoh". Aku kurang setuju, dan aku juga tak jarang protes dengan kalimat itu, kata menanti menurutku, memiliki makna bahwa kita kurang ikhtiar. Coba analogikan, kita kepingin Mie Ayam, rasa kepenginnya itu sudah diujung tanduk, kemudian apakah kita hanya terus menanti si Mang Mie Ayam? Padahal kita belum tau pasti si Mang bakalan lewat depan rumah kita.
Nah, begitu juga dengan jodoh, kalo dia terus kita nantikan kehadirannya, bagaimana dia bisa tahu keberadaan kita. Ya...walau kita harus TAWAKAL sepenuhnya pada Allah SWT dalam rangka berTAKWA kepadaNya...itu tidak berarti kita hanya menanti, ya kan? kita juga harus IKHTIAR.
Aku bahkan lebih sepakat dengan anjuran Ust. Yusuf Manshur, jodoh itu harus diBELI. (eits jangan mikir negatif dulu).
Maksud, beliau membeli disini adalah dengan cara berSEDEKAH...
Itu merupakan bagian ikhtiar menurutku.
Selain itu, aku lebih suka dengan kata MENCARI jodoh dari pada MENANTI. Mencari lebih nampak keoptimisan dan ikhtiar kita.

Seperti lirik lagu berikut...^_^
(Cari Pasangan - Rabbani)

Mari mari marilah dengarlah ini kisah silam oh kawan
Sangatlah berguna moga hidup aman bahagia

Di malam yang pertama jumpa mertua  
Tersentak si jejaka diberitakan
Isterinya tidak sempurna rupa
Anggota zahirnya lumpuh semua
Tiada upaya mengurus diri

*)
Terkejut si jejaka
Penuh persoalan di hatinya
Mungkinlah sudah jodoh itulah isterinya
Hibanya rasa hati namun tetap ridho pada takdir
Asalkan punya iman itulah paling penting

**)
Saat-saat berjumpa terpesona memandang
Benarkah isterinya menawan sungguh cantik

***) (2x)
Cari cari carilah pasangan hidup betul-betul oh kawan
Bahagia berseri rumah tangga akan harmoni

Terhurai dijawablah oleh mertua
Zahirnya tak sempurna kiasan saja
Memberi makna sucinya diri
Wanita solehah terpelihara
Terharu jejaka tunduk bersyukur

Back *) - **) - ***)

****)
Jangan mudah percaya harkat pangkat dan rupa
Indahnya di mata berawaslah
Rasul sudah bersabda insan punya agama
Akhlaknya mulia pahamilah

Back to ***) - ****) - ***)

Cari cari cari


Dalam penCARIAN mari berTAWAKAL dan berTAKWA padaNya...semoga kita memperoleh pasangan yang BAIK dan membawa kita pada keBAIKAN dunia dan akhirat....aamiin

Putuskan, kita mau MENANTI atau MENCARI???

Wallahu'alam

11 Des 2012

"Goresan"


Kisah Veer Zaara (BollyWood Movie), sungguh mengharukan. Berkorban karena cinta, tersiksa karena cinta dan menua karena cinta. 
Begitukah idealnya cinta?
Kenapa kisah cinta yang ditayangkan di stasiun TV terasa begiti sempit, payah, tersiksa, merana. Walau terkadang tak jarang terlihat begitu mudah, begitu indah dan begitu mungkin untuk terjadi.
Kebanyakan muda mudi kini lebih banyak belajar dari tontonan sinetron-sinetron yang tayang di TV. Cobalah lihat, begitu banyak muda mudi kita yang tertipu dengan scenario sutradara. Yang padahal semua itu hanyalah fiktif belaka, walaupun sebagian scenario itu tidak luput dari pengalaman yang pernah dirasa dilihat dan didengar oleh penulis scenario tersebut. Tapi, semua itu tidaklah seperti kenyataannya. Semuanya terlalu dilebih-lebihkan. 

Efek yang dialami muda mudi sudah sangat kronis. Mereka  menjadi pemuda yang hanya punya khayalan tanpa melihat realita. Mereka menjadi pemuda yang hanya punya angan-angan hingga hidup nya bertumpu pada kisah cinta semu.
Kisah cinta siapa yang ia contoh? Sifat dan watak siapa di dunia ini yang sempurna??? Untuk di kagumi untuk diidolakan para wanita??? Apakah si Azam dalam kisah KCB, atau si Fahri yang ada dalam kisah AAC ataukah si Rahul yang ada di Kuch-Kuch ho Tahai??? Atau Veer yang rela mati dan hidup dipenjara selama 22 tahun demi kehormatan Zaara, kekasih yang ia cintai???
Itukah yang diimpikan??? atau mengimpikan seorang wanita cantik, sholehah, anak Kiyai, cerdas, pintar dan berwawasan luas, seperti Ana Altafunnisa yang ada di KCB???
Walllahualam, tak jarang sinetron dan Film berdampak luar biasa. Yah, Walau tidak semua orang yang terhipnotis dengan scenario para penulis. Namun, sebagian memang terlihat terlena. Mereka hidup dalam mimpi. Hingga sampai kedunia nyata, ia selalu memasukkan khayalannya. Hingga terkadang mereka stress dan sedih yang amat terlalu. Karena impiannya sangat sulit terealisasi seperti kisah cinta yang pernah ia tonton atau ia baca. 

Hmmm, Okelah. Boleh-boleh saja kita mengimpikan kisah cinta yang terkadang telah tersetting dalam benak kita yang bereferensikan novel/pun film. Namun, alangkah lebih baiknya kita secara SADAR merealisasikan tentang apa yang ingin kita wujudkan. Sehingga semua yang telah terealisasi tidak MATI MAKNA.

Mari kembali ke alam nyata. Memainkan peran dari scenario Allah SWT. Karena scenario yang paling indah adalah scenario Allah SWT. Coba lihat kisah cinta Nabi Muhammad SAW dan Khadijah, Fatimah dan Ali, Yusuf dan Zulaikah dan masih banyak lagi. Kisah cinta yang bertumpu pada cinta illahi. Cinta yang bergantung pada iman pada Allah SWT. Dan cinta yang bermuara pada CintaNya.
Itulah scenario terindah, pertemuannya suci dan baik. Prosesnya mudah tidak begitu rumit. Dan Berakhir dengan indah walau tidak lepas dengan air mata. Sebaik-baik  kita merencanakan kisah percintaan kita dengan seseorang yang kita kasihi, maka sesungguhnya lebih indah rencana Allah SWT. Karena, terkadang apa yang kita rencanakan atau kita impikan, tidak semuanya menjadi nyata. Maka kuncinya adalah tawakal padaNya. Wallahu’alam.

1 Nov 2012

PILIHAN


       Sulit rasanya mengambil sebuah keputusan yang berkaitan dengan pendamping hidup. Tiada rasa selain merana, kegelisahan hati yang umumnya dirasakan oleh seorang wanita jika usia telah beranjak senja namun pendamping hiduppun belum jua menghampiri. Hingga terkadang, pilihan dalam menentukan pendamping hidup tidak lagi berpatokan pada karakter atau sifat yang diperintahkan Nabi. Karakter yang menjadi patokan menguap bersama senjanya usia sang gadis.
        Memilih jalan untuk segera mengakhiri masa lajang bukanlah keputusan yang mudah, terkadang geliat semangat masa muda masih menjadi dinding untuk segera memilih hidup bersama pasangan. Tak ayal, sebagian pemuda yang memiliki keinginan menikahi seorang gadis harus mundur, karena alasan sang gadis yang diinginkannya memilih untuk melanjutkan studi ataupun karirnya. Alasan klasik lain adalah karena usia yang masih muda, ataupun kesiapan sang gadis yang belum matang untuk mendampingi dan mengurus pasangannya. Setiap pilihan sudah tentu ada resiko dan konsekuensinya. Namun, hanya sedikit yang berani untuk menghadapinya.
      So, ketika sebuah pilihan tersebut telah tiba nanti, berbuatlah sesuai dengan syari’at. Menyerahkan seutuhnya pada Sang Maha Tahu, Sang Maha Hidup, Sang Pemilik Rahasia dan Sang Maha Penguasa segalanya. Allah SWT lebih mengetahui apa yang dibutuhkan hambanya. Terkadang kita hanya melihat sebelah mata saja, tanpa melihat sisi lain yang diberikan oleh Allah. Maka, Sholat dan berdo’alah karena da’a adalah senjata orang-orang beriman. Selanjutnya bertawakallah pada Allah SWT. Dan ambillah keputusan yang kita yakini itulah pilihan dari Allah SWT.

Wallahu’alam…^^